Rabu, 09 Januari 2013

TALLIT DAN TZITZIT


Baca: Lukas 8:40-48


Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. (Lukas 8:44)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 25-27

Tallit adalah syal yang dipakai oleh orang Yahudi untuk berdoa. Pada keempat ujungnya terdapat tali berpilin yang disebut jumbai atau tzitzit (band. Bil. 15:37-41). Jumbai ini bagi orang Yahudi melambangkan pengharapan mereka akan Mesias, ketaatan mereka pada hukum Tuhan, dan penghormatan mereka akan kekudusan Tuhan. Ketika orang Yahudi berdoa, mereka akan memegang jumbai ini dan meletakkannya di kepala mereka.

Menarik untuk dicermati, Lukas secara spesifik menyebut perempuan ini secara sengaja memilih menjamah jumbai jubah Yesus (ay. 44). Bukan bagian yang lain. Tentunya ia telah memperhitungkannya. Dorongan ini tampaknya bukan timbul begitu saja, namun dilandasi pengertian tertentu. Hidup di tengah-tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu, tak ayal perempuan ini tahu makna jumbai jubah yang dipakai Tuhan Yesus.

Dari sini kita mengerti, sebenarnya perempuan ini mengharapkan tiga hal terjadi dalam hidupnya. Pertama, sebagai orang najis, ia rindu ditahirkan dan diikat dengan kekudusan Tuhan. Kedua, ia tahu jika ada orang yang dapat menyelamatkan dan menyembuhkannya, Dia pasti Mesias. Dan ketiga, kesiapannya untuk menaati perintah Allah dan meninggalkan dosa. Iman yang benar akan kesembuhan ini yang menarik keluar kuasa Yesus. Yesus tidak perlu berkata, “Aku mau engkau sembuh” atau, “Dosamu sudah diampuni.” Yesus hanya meneguhkan iman perempuan itu (ay. 46). Apakah Anda memiliki dasar iman yang benar seperti perempuan ini?—MRT 
SAAT IMAN KITA TERBANGUN DENGAN BENAR,
KITA AKAN MENJANGKAU KEAJAIBANNYA

Senin, 07 Januari 2013

PEMBUNUH MIMPI


Baca: Kejadian 37:5-20


Kata mereka seorang kepada yang lain: “Lihat, tukang mimpi kita itu datang!” (Kejadian 37:19)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 22-24

Barangkali hampir semua penemu ditertawakan ketika mereka menyatakan impian mereka. Ketika Bill Gates, misalnya, berbicara bahwa komputer pribadi akan ada di rumah orang banyak, orang tertawa tak percaya. Saat itu komputer dapat berukuran sebesar rumah. Kini, ketika impiannya terwujud, dunia menyanjungnya sebagai sosok yang visioner.

Yusuf bukan hanya ditertawakan oleh saudara-saudaranya karena impiannya, melainkan nyaris dibunuh. Akhirnya, ia dijual seolah barang dagangan. Tidak berhenti sampai di situ, setelah menjadi budak ia difitnah dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Namun, perbudakan dan pemenjaraan terbukti tidak mampu mengubur impiannya. Saat terpuruk di lantai penjara pun ia terus percaya dan berpegang teguh pada janji Allah. Yusuf menunggu sepanjang 22 tahun sebelum impiannya menjadi kenyataan. Saudara-saudaranya kemudian sujud di hadapannya. Namun, lebih dari itu, penggenapan impiannya sekaligus mewujudkan tujuan besar Allah, yaitu menyelamatkan kehidupan umat pilihan yang dipakai Allah dalam rencana penebusan-Nya (Kej. 45:7 dan 50:20).

Ketika Allah memberi kita impian, bukan berarti jalan untuk mewujudkannya akan mulus. Sebaliknya, berbagai rintangan akan berusaha menggagalkan dan membunuhnya. Teruslah percaya dan berpegang teguh pada janji-Nya. Allah yang memberikan impian, Dia pula yang akan menyertai kita menghadapi rintangan dan mewujudkan impian tersebut. Ketika impian itu terwujud, biarlah nama-Nya dipermuliakan.—TS 
IMPIAN MENGINGATKAN BAHWA KITA HIDUP
BUKAN HANYA UNTUK HARI INI,
MELAINKAN UNTUK MEMPERSIAPKAN SEBUAH MASA DEPAN

PETAKA KABAR ANGIN


Baca: Amsal 6:16-19


... lidah dusta... saksi dusta yang menyemburnyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara. (Amsal 6:17,19)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 19-21

Setiap tahun pada bulan November, rakyat dari seluruh pelosok Kamboja membanjiri ibu kota Phnom Penh untuk menghadiri Festival Air. Pada 2010, festival akbar ini berubah menjadi petaka: 450 orang tewas di Jembatan Berlian, pusat berlangsungnya festival. Para pengunjung panik karena tersebar kabar angin bahwa jembatan itu tidak stabil. Alhasil, banyak korban tewas terinjak sesamanya dan terjun ke Sungai Tonle Sap.

Kabar angin dapat didengungkan secara iseng, namun dapat pula secara sengaja dengan disertai niat jahat. Efeknya tak jarang lebih kejam dari tikaman pedang tajam. Kabar angin, begitu dilontarkan, akan menyebar secara tak terkendali. Baik pencetus maupun penyebarnya tidak akan mampu mengontrol dampaknya.

Apakah Anda memperhatikan bahwa dua dari enam hal yang dibenci Tuhan dalam perikop hari ini berkaitan dengan kabar angin? Yang satu, lidah dusta (ay. 17), mengacu pada pencetusnya. Yang kedua, saksi dusta (ay. 19), menunjuk pada penyebarnya. Mengapa Tuhan menyampaikan peringatan yang begitu keras? Si pencetus dan si penyebar kabar angin sama-sama pengecut, tidak memiliki sikap ksatria. Kejahatannya bukan hanya membunuh karakter seseorang, namun dapat pula memakan ribuan korban. Bahkan ada perang antarbangsa yang pecah gara-gara kabar angin.

Kita perlu menjaga hati dan lidah dengan penuh kewaspadaan agar tidak mencetuskan atau menyebarkan kabar angin. Bagaimana menjaganya? Dengan mempersilakan firman-Nya, firman kebenaran, menguasai hati kita (lihat Mazmur 119:9-11).—SST 
LIDAH AKAN TERKENDALI
JIKA HATI KITA DIKUASAI KEBENARAN

Rabu, 02 Januari 2013

CATATAN KAKI


Baca: Roma 3:21-31


... dan oleh anugerah-Nya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus. Roma 3:24

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 7-9

Untuk menarik perhatian pembeli, banyak produk yang berjanji memberikan sesuatu secara gratis setelah kita membeli barang dalam jumlah tertentu. Beli dua produk, dapat produk gratis satu. Beli sepeda motor mendapat hadiah televisi gratis. Beli rumah mendapat bonus mobil gratis. Jika saldo tabungan kita mencapai angka tertentu, kita mendapat tiket berlibur ke luar negeri secara gratis. Namun, pada iklan itu biasanya terdapat sebuah catatan kaki bertanda bintang dengan tulisan yang sangat kecil, jauh lebih kecil dari font tulisan iklannya. Bunyinya: “Syarat dan ketentuan berlaku.” Jika tidak jeli, banyak pembeli yang merasa tertipu dan akhirnya kecewa.

“Tak ada makan siang gratis,” kata sebuah slogan. Ada benarnya. Jika Anda mendapat sesuatu secara gratis, sesungguhnya itu karena ada seseorang yang telah membayarkannya untuk Anda, dengan atau tanpa Anda sadari.

Orang-orang berdosa dapat diselamatkan dan dibenarkan karena Kristus telah membayar semua utang dosa manusia. Tak ada upaya manusia yang membuatnya dapat diselamatkan. Keselamatan hanya dimungkinkan jika kita beriman kepada Kristus. Karena kasih-Nya, Dia telah membayar utang kita dengan lunas. Tak ada lagi yang perlu kita tambahkan. Pada kebenaran ini terdapat catatan kaki dengan font tulisan yang besar: “Telah dibayar lunas oleh Yesus Kristus”.

Ingatlah senantiasa “catatan kaki” kerohanian kita tersebut. Hiduplah sesuai dengan identitas baru kita sebagai orang yang sudah diselamatkan dan dibenarkan.—HEM
TUHAN YESUS KRISTUS SUDAH MELUNASI SELURUH UTANG DOSA KITA
TAK PERLU LAGI KITA MENCICILNYA TIAP HARI DENGAN PERASAAN BERSALAH

Senin, 31 Desember 2012

ROTI GOSONG


Baca: Mazmur 65


Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu. (Mazmur 65:12a)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 1-3

Saat Alin masih kecil, ibunya menyajikan makan malam berupa telur goreng, saus, dan beberapa kerat roti. Mungkin karena lelah setelah bekerja seharian, ibu Alin memanggang roti sampai gosong. Alin tegang menunggu respon ayahnya. Ternyata, sang ayah mengambil roti itu sambil tersenyum, memolesnya dengan mentega, lalu memakannya dengan lahap. Ibu Alin meminta maaf, tetapi suaminya menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang.”

Sebelum tidur, Alin menghampiri ayahnya dan bertanya, mengapa ayah mau makan roti gosong. Sambil memeluknya, si ayah berkata, "Ibumu sudah lelah bekerja. Lagi pula, kita tidak akan sakit karena memakan roti gosong. Bersyukur saja ia masih bersama kita."

Hidup kita juga berisi banyak hal yang tak sempurna. Selain keberhasilan dan kebahagiaan, ada berbagai kegagalan dan kekecewaan. Saat merenung ke belakang, manakah yang menjadi fokus kita? Bagian yang negatif, yang membangkitkan keluh kesah? Atau, bagian yang positif, yang membuat hati kita membara dengan pujian dan syukur?

Sepatutnya kita bersyukur atas kebaikan Tuhan yang melimpahi dan melingkupi kita. Ya, kasih-Nya nyata dalam berbagai aspek kehidupan: dalam pengampunan-Nya yang tak ternilai dan undangan-Nya untuk menikmati damai bersama-Nya (ay. 3-5); dalam penyelamatan-Nya, juga kebajikan dan mukjizat-Nya yang mengikuti kita (ay. 6-9); dalam pintu kesempatan dan mata pencaharian yang Dia sediakan untuk memberi kita kecukupan (ay. 10-14). Sungguh suatu berkat indah yang memahkotai tahun-tahun kita, bukan?—AW 
SELAMA JANTUNG KITA MASIH BERDETAK
BERARTI KITA MASIH DAPAT BERSYUKUR MENGHITUNG BERKAT

Minggu, 30 Desember 2012

JANGAN TAKUT


Baca: Wahyu 1:9-20


“Jangan takut! Akulah Yang Pertama dan Yang Terkemudian, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.  (Wahyu 1:17-18)

Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 19-22

Menurut Anda, bagaimanakah sosok Allah itu? Sebagian orang mungkin membayangkan sosok seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis. Salah satu teman saya pernah bermimpi buruk karena takut dibuang Allah ke neraka. Sebagian lagi mungkin membayangkan sosok yang simpatik dan bersuara lembut. Seperti gambar Yesus yang sering kita lihat. Tersenyum memangku anak-anak, berbelas kasih pada orang sakit. Mungkin Anda ingin memeluk-Nya begitu berjumpa.

Yohanes bisa memberitahu kita bagaimana rasanya bertemu Yesus sebagai Allah dalam kemuliaan-Nya. Jangankan memberi hormat atau memeluk. Tungkai kakinya mendadak lemas untuk menopang tubuhnya. Ia tersungkur seperti orang mati. Wajah Yesus bagai matahari, mata bagai nyala api, suara bagai desau air bah, tangan memegang bintang, dan mulut mengeluarkan pedang (ayat 14-16). Menggentarkan orang paling berani sekalipun! Namun, dengarlah apa kata-Nya: “Jangan takut!” Pernyataan tentang diri-Nya menjamin bahwa semua ada dalam kendali-Nya (ayat 17-18).

Jangan takut! Allah yang dahsyat itu tidak ingin kita merasa takut pada-Nya. Dia ingin kita berlari mendekat, bukan menjauh dari-Nya. Justru karena Dia dahsyat, Dia ingin kita memercayakan hidup kepada-Nya. Seseorang pernah menghitung bahwa ada 365 kali kata “jangan takut” diulangi dalam Alkitab. Jangan takut menghadapi tiap-tiap hari sepanjang tahun yang terbentang di depan! Jangan takut datang kepada Allah! Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Anda memercayakan hidup pada Allah, apakah yang masih Anda takutkan?—ELS 
JANGAN TAKUT!
SEGALA SESUATU DALAM KENDALI ALLAH
!

OBITUARI


Baca: 2 Petrus 3:1-13


Pada hari itu langit akan lenyap ... dunia akan hangus oleh nyala api, ... Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.  (2 Petrus 3:10-11)

Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 12-18

Sebuah koran pernah keliru memuat obituari Alfred Nobel, selagi ia masih hidup. Yang meninggal sebenarnya adalah adik laki-laki Alfred. Namun, melalui kekeliruan itu, Alfred jadi melihat bagaimana orang lain menilai hidupnya, yaitu sebagai orang yang menjadi kaya dengan memungkinkan terjadinya pembunuhan massal. Memang, bahan-bahan peledak temuan Alfred telah dibeli pemerintah untuk produksi senjata. Terguncang dengan obituari itu, Alfred lalu memutuskan untuk memakai kekayaannya guna memberi penghargaan terhadap upaya-upaya kemanusiaan, termasuk yang kita kenal sebagai Nobel Perdamaian.

Bayangkan jika seperti Alfred, kita mendapat kesempatan untuk membaca obituari kita. Bagaimana jika obituari itu dituliskan dari sudut pandang surga? Orang bisa saja tidak mengenal kita dengan cukup dekat untuk bisa menilai kita, tetapi tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan! Rasul Petrus mengingatkan agar para pengikut Kristus tidak hidup seenaknya sebagaimana orang-orang yang tidak percaya pada hari penghakiman (ayat 3-9). Tuhan tidak lalai akan janji-Nya dan jelas Dia juga takkan lalai memperhatikan setiap detail kehidupan kita!

Selama kita masih hidup di dunia, kita masih diberi kesempatan untuk menyunting obituari kita. Akankah kita menginvestasikan hidup kita dalam hal-hal yang bernilai kekal? Ataukah kita mencurahkan seluruh hidup dalam ambisi pribadi, hidup yang tidak bertanggung jawab, atau kewajiban agama yang kosong? Jelang akhir tahun, mari mohon hikmat Tuhan agar kita dapat membedakan apa yang akan binasa bersama dunia dan apa yang dihargai Tuhan dalam kekekalan.—ELS 
HARI TUHAN CEPAT ATAU LAMBAT PASTI TIBA.
BAGAIMANA KITA MEMPERSIAPKAN DIRI MENGHADAPINYA?