Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Februari 2013

KUALITAS vs JABATAN


Baca: Galatia 2:1-10


Mengenai mereka yang dianggap terpandang itu—bagaimana kedudukan mereka dahulu, itu tidak penting bagiku, sebab Allah tidak memandang muka… (Galatia 2:6)


Bacaan Alkitab Setahun:
Imamat 9-10

Semua orang ingin dihormati sesuai dengan posisi atau jabatan yang disandangnya walaupun kedudukan itu bukan diperolehnya karena suatu prestasi. Seharusnya, prestasi atau kualitas kerjalah yang menentukan tinggi rendahnya kedudukan seseorang di tempat kerja.

Paulus memperjuangkan pengakuan atas kerasulannya tidak berdasarkan posisinya sebagai rasul, tetapi berdasarkan kualitas pelayanannya. Bagi Paulus, pengakuan akan posisinya sebagai rasul bukan hal yang terpenting. Ia jauh lebih menghargai kehormatan yang dipercayakan kepadanya untuk memberitakan Injil. Baginya, pengakuan Kristus terhadap kerasulannya jauh lebih tinggi atau lebih sah dibandingkan pengakuan dari manusia. Rasul Paulus tidak mundur dari pelayanan walaupun pengakuan akan jabatan kerasulannya masih diperdebatkan oleh kaum Yahudi yang memperjuangkan legalitas hukum Taurat. Ia menempatkan posisi Injil di atas segala peraturan manusia yang membelenggu sehingga ia mengabaikan desakan agar kewajiban bersunat diberlakukan bagi orang percaya bukan Yahudi. Kebenaran Injil yang sekarang menjadi patokan moral dan iman bagi setiap orang percaya.

Bagaimana dengan kita, apakah kita mengejar kualitas atau hanya sekadar posisi? Di negeri ini banyak orang berlomba mengejar posisi dengan menghalalkan segala cara, mulai dari main suap sampai memakai ijazah palsu. Jangan terhanyut arus. Ingatlah, kualitas pribadi akan kita bawa sampai mati, sedangkan posisi bisa tumbang sewaktu-waktu jika tidak ditunjang oleh kualitas pribadi—ENO
KARAKTER YANG BERKUALITAS AKAN MENJADI PENOPANG YANG TEGUH
BAGI KEDUDUKAN DAN PENCAPAIAN YANG MENJULANG

BERKAT, BUKAN BENCANA


Baca: Efesus 4:17–32


Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan dengan serakah mengerjakan segala macam perbuatan cemar. (Efesus 4:19)


Bacaan Alkitab Setahun:
Imamat 7-8

Penggunaan energi nuklir sebagai sumber energi alternatif saat ini masih memicu kontroversi yang sengit. Pihak yang mendukung mengedepankan manfaat energi nuklir, antara lain untuk mengurangi polusi udara karena emisi karbonnya rendah. Sebaliknya, pihak yang menentangnya menyoroti bahaya radiasi nuklir bagi manusia dan lingkungan. Ancaman bahaya semakin nyata bila manusia mengembangkan program senjata nuklir. Energi nuklir, dengan demikian, benar-benar harus dikelola secara hati-hati dan bijaksana.

Rasul Paulus juga mengingatkan orang percaya agar bersikap bijaksana dan berhati-hati dalam menjalani hidupnya. Kita dipanggil untuk hidup selayaknya manusia baru, manusia yang mengenal Allah dan bersekutu dengan Dia. Hidup sebagai manusia baru tak ayal mendatangkan berkat dan manfaat bagi sesama (ay. 28b, 29). Tetapi, sekalipun sudah diperbarui, kita masih dapat memilih untuk hidup dalam hawa nafsu dan keserakahan (ay. 19). Pilihan yang buruk ini pada akhirnya mendatangkan pertikaian, fitnah, dan berbagai tindak kejahatan (ay. 31). Sebuah gaya hidup yang tidak pantas bagi seorang manusia baru, bukan?

Bagaimana kita belajar untuk hidup secara bijaksana dan berhatihati? Dengan menyadari identitas kita sebagai manusia baru. Manusia baru bukanlah sumber bencana, melainkan sumber berkat bagi sesamanya. Izinkanlah Roh Kudus bekerja di dalam dan melalui kehidupan kita. Dia akan memampukan kita untuk mengasihi Allah dan sesama sebagaimana Allah telah terlebih dahulu mengasihi kita.—JRT
KITA DIPANGGIL UNTUK MENJADI BERKAT DAN MEMELIHARA KEHIDUPAN
BUKAN UNTUK MENGHANCURKAN DAN MENDATANGKAN BENCANA

Selasa, 29 Januari 2013

MEMINTA HIKMAT


Baca: Yakobus 1:1-8


Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah. (Yakobus 1:5)

Bacaan Alkitab Setahun:
Keluaran 35-37

Seorang pemain golf profesional baru saja membuat pukulan bagus. Sayang, bolanya masuk ke sebuah kantong kertas pembungkus makanan yang dibuang sembarangan. Menurut peraturan, jika ia sengaja mengeluarkan bola itu, maka ia mendapat hukuman. Namun kalau ia memukul bola bersama kantong kertas itu, ia tidak mungkin bisa memukul dengan baik. Si pemain pun berpikir sejenak untuk mencari hikmat. Tak lama kemudian, ia mengambil korek dari sakunya dan membakar kantong kertas tadi. Sesudah itu, ia dapat memukul bola golf itu lagi dengan pukulan terbaiknya.

Di perjalanan hidup ini, kerap kita menjumpai peristiwa yang tak terduga dan belum pernah kita alami. Sebagian di antaranya bisa jadi berupa ujian yang berat (ayat 1-3)—baik dalam berkeluarga, dalam membesarkan anak, dalam bekerja, dalam bergaul, dalam melayani Tuhan, dan dalam banyak aspek lain lagi. Kita membutuhkan hikmat untuk menghadapinya. Namun, dalam kondisi sulit, wawasan dan pengalaman kita bisa terasa tak cukup. Sebagai anak Tuhan, di mana kita dapat memperoleh hikmat untuk dapat memilih sikap dan tindakan yang tepat?

Yakobus memberi kita kelegaan bahwa bila kita merasa kekurangan hikmat, kita boleh memintanya kepada Allah (ay. 5). Asal kita meminta dengan iman, Dia akan memberikan hikmat itu tanpa syarat. Dia akan memberi kita hikmat praktis untuk mengatasi kesulitan kita. Dia akan memberi kita hikmat untuk dapat melihat sebuah keadaan sebagaimana Allah melihat sehingga kita tahu bagaimana bersikap secara tepat bagi setiap pribadi dan dalam setiap situasi.—AW 
LIHATLAH MASALAH DARI CARA ALLAH MELIHAT
MAKA IA TAKKAN TAMPAK SESULIT KETIKA IA PERTAMA TERLIHAT

Kamis, 24 Januari 2013

LANGSUNG MARAH


Baca: Yakobus 1:19-27


Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab kemarahan manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. (Yakobus 1:19-20)

Bacaan Alkitab Setahun:
Keluaran 20-22

Seorang ibu begitu murka ketika anak gadisnya pulang terlambat. Tanpa banyak bertanya dan tidak memberi putrinya kesempatan untuk menjelaskan, si ibu langsung memuntahkan kalimat-kalimat yang tidak senonoh dan bernada menghakimi. Padahal, keterlambatan putrinya terjadi secara tak sengaja: ban motornya kempis di tengah jalan dan ia harus menuntun motor cukup jauh sebelum menemukan tukang tambal ban. Selain itu, batere telepon genggamnya habis sehingga ia tidak dapat memberi tahu ibunya.

Kita kadang-kadang membiarkan prasangka atau kemarahan menguasai diri kita sehingga kita tidak dapat menanggapi situasi dengan semestinya. Kita tidak meluangkan waktu untuk mendengarkan penjelasan orang lain dan secara gegabah melontarkan tuduhan. Ledakan amarah yang membabi buta menyebabkan kita menyeburkan perkataan yang tidak pantas dan meninggalkan luka yang mendalam di hati orang yang kita hakimi. Singkatnya, amarah yang tak terkendali menghancurkan hubungan yang baik.

Apa yang tampak oleh mata kita belum tentu mengungkapkan seluruh keadaan secara lengkap. Oleh sebab itu, sudah semestinya kita memberikan kesempatan kepada orang lain menjelaskan duduk perkaranya. Kesediaan untuk mendengarkan ini menolong kita untuk mengendalikan amarah. Sebaliknya, kita memiliki waktu untuk mempertimbangkan perkara secara lebih jernih sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih adil. Dengan itu, kita juga menghormati orang tersebut dan menghargai hubungan dengannya.—RE 
LEBIH BAIK MEMBERIKAN SEPASANG TELINGA YANG MAU MENDENGARKAN
DARIPADA MENCECARKAN SERIBU NASIHAT YANG MENGHAKIMI

MEMBUANG MAKANAN


Baca: Kejadian 1


... “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. (Kejadian 1:29)

Bacaan Alkitab Setahun:
Keluaran 23-25

National Resources Defense Counsel, badan pertahanan pangan nasional AS, pada Agustus 2012 mengeluarkan laporan mengejutkan. Menurut surveinya, warga AS membuang 40% makanan mereka. Nilainya setara dengan 165 miliar dolar per tahun, atau lebih dari 10 kilogram per orang per bulan. Dampaknya luas. Warga AS menderita obesitas paling parah di dunia. Mereka juga memboroskan penggunaan lahan, air segar, dan sekian banyak bahan kimia. Belum lagi, limbah makanan itu menyumbangkan 25% emisi gas metana di negeri itu. Misalkan mereka membuang makanan hanya sebanyak 15%, 25 juta orang akan dapat menikmati kecukupan pangan selama setahun penuh. Sebuah potret yang membuat kita mengelus dada.

Makanan terlalu berharga untuk dihamburkan. Sadarkah Anda bahwa makanan adalah pemberian pertama dari Allah yang tercatat dalam Alkitab? Kejadian 1 memaparkan, Allah menciptakan alam dengan firman-Nya. Puncaknya, Allah menciptakan manusia dan memberkati mereka. Barulah pada ayat 29, untuk pertama kali muncul kata “memberikan”. Pemberian ini tidak lain mengacu pada makanan untuk dikonsumsi manusia. Dan firman-Nya menegaskan, pemberian-Nya itu sesuatu yang baik bagi kesejahteraan ciptaan-Nya.

Ketika menjumpai hidangan di meja makan, kita sedang menyambut pemberian yang baik dari Allah. Adakah kita sungguh-sungguh mengucap syukur atas makanan itu? Apakah kita memilih makanan secara arif? Apakah kita makan dengan pola yang sehat, tidak berlebihan, dan tidak menghamburkannya secara sembrono?—ARS 
KETIKA KITA MENIKMATI MAKANAN
KITA MENIKMATI KEBAIKAN PEMELIHARAAN ALLAH

Jumat, 11 Januari 2013

BISNIS TIDUR


Baca: Amsal 3:21-26


Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak. (Amsal 3:24)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 31-33

Apakah Anda mengidap insomnia atau sindroma sulit tidur? Di Amerika Serikat, menurut laporan Time, belakangan semakin berkembang berbagai kesempatan bisnis sehubungan dengan insomnia. Diperkirakan, pada 2012, saat perekonomian mereka lesu, “bisnis tidur” ini meraup pendapatan lebih dari 32 miliar dolar, terus naik dari tahun-tahun sebelumnya. Mulai dari obat-obatan, tempat tidur, lilin terapi, sampai konsultan, bisnis ini menawarkan berbagai kebutuhan bagi mereka yang mengalami kesulitan tidur.

Sulit tidur memang merepotkan dan dapat menguras biaya ekstra. Namun, kita yang bisa tidur lelap hari demi hari biasanya menganggap tidur nyenyak itu sebagai perkara yang memang sudah seharusnya begitu. Tidak sering kita memikirkan arti penting dan manfaat tidur. Menariknya, firman Allah cukup banyak membicarakan aktivitas ini, dan kebanyakan menyorotinya secara positif. Nas hari ini, misalnya, mengingatkan bahwa tidur nyenyak itu tidak lain suatu berkat dari Tuhan. Tidur merupakan salah satu bentuk pemeliharaan dan penjagaan Tuhan atas hidup kita. Orang yang berpaut pada Tuhan akan sejahtera jiwanya, dan pada gilirannya tubuh lahiriahnya pun akan dapat beristirahat dengan tenteram.

Hari ini, saat terjaga dari tidur atau saat berbaring menjelang terlelap, bagaimana jika kita meluangkan waktu untuk merenungkan berkat Tuhan yang unik ini? Biarlah kesadaran ini menolong kita mengembangkan pola tidur yang sehat: tidak berlebihan, tidak pula kerap begadang.—ARS 
TIDUR ADALAH SEBUAH TINDAKAN IMAN:
MENYERAHKAN KEBERADAAN KITA KEPADA DIA
YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Kamis, 10 Januari 2013

MUKJIZAT KENTANG


Baca: Roma 8:18-30


Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia... (Roma 8:28)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 28-30

Dalam Faith Like Potatoes, Angus Buchan dan ribuan warga berkumpul di Stadion King Parks, Durban, Afrika Selatan, berdoa meminta hujan turun. Semula seorang petani jagung dan peternak, Angus memutuskan untuk menanam kentang. Ia sudah diperingatkan, tidak bisa bertanam kentang tanpa pengairan yang cukup. Nyatanya, selama empat bulan hujan tak kunjung turun. Angus bisa aja geram dan patah semangat, namun ia memilih untuk tetap percaya.

Suatu hari ia meminta Simeon Bhengu, tangan kanannya, agar menyiapkan pegawai mereka untuk memanen ladang. Ia berdoa dan mengucap syukur atas panen hari itu—tanpa ia tahu kentangnya bertumbuh atau tidak. Ternyata, mereka memanen kentang berukuran besar-besar! Angus bersukacita dan warga setempat menyaksikan keajaiban Tuhan. Ah, siapa menduga bahwa Tuhan memiliki cara lain untuk menumbuhkan kentang?

Cara berpikir kita kerap tidak selaras dengan cara berpikir Tuhan. Rencana Tuhan sering tak terselami oleh daya pikir kita yang terbatas. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok. Hal itu dapat membangkitkan kekhawatiran, namun dapat pula memperkuat iman kita. Ya, ketika menghadapi jalan buntu, maukah kita terus berdoa dan berusaha dengan tetap percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita? Yakinkah kita bahwa, sekalipun keadaan tampak buruk, Allah sedang mengerjakan sesuatu yang baik? Jawaban Tuhan mungkin tidak senantiasa ajaib seperti pengalaman Angus, namun rencana-Nya pasti mendatangkan kesejahteraan bagi kita.—IST 
KITA MEMERLUKAN IMAN SEPERTI KENTANG:
IMAN YANG SEDERHANA, NYATA,
DAN MAMPU MENOPANG KITA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
—Peter Marshall

Rabu, 09 Januari 2013

TALLIT DAN TZITZIT


Baca: Lukas 8:40-48


Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jumbai jubah-Nya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. (Lukas 8:44)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 25-27

Tallit adalah syal yang dipakai oleh orang Yahudi untuk berdoa. Pada keempat ujungnya terdapat tali berpilin yang disebut jumbai atau tzitzit (band. Bil. 15:37-41). Jumbai ini bagi orang Yahudi melambangkan pengharapan mereka akan Mesias, ketaatan mereka pada hukum Tuhan, dan penghormatan mereka akan kekudusan Tuhan. Ketika orang Yahudi berdoa, mereka akan memegang jumbai ini dan meletakkannya di kepala mereka.

Menarik untuk dicermati, Lukas secara spesifik menyebut perempuan ini secara sengaja memilih menjamah jumbai jubah Yesus (ay. 44). Bukan bagian yang lain. Tentunya ia telah memperhitungkannya. Dorongan ini tampaknya bukan timbul begitu saja, namun dilandasi pengertian tertentu. Hidup di tengah-tengah masyarakat Yahudi pada waktu itu, tak ayal perempuan ini tahu makna jumbai jubah yang dipakai Tuhan Yesus.

Dari sini kita mengerti, sebenarnya perempuan ini mengharapkan tiga hal terjadi dalam hidupnya. Pertama, sebagai orang najis, ia rindu ditahirkan dan diikat dengan kekudusan Tuhan. Kedua, ia tahu jika ada orang yang dapat menyelamatkan dan menyembuhkannya, Dia pasti Mesias. Dan ketiga, kesiapannya untuk menaati perintah Allah dan meninggalkan dosa. Iman yang benar akan kesembuhan ini yang menarik keluar kuasa Yesus. Yesus tidak perlu berkata, “Aku mau engkau sembuh” atau, “Dosamu sudah diampuni.” Yesus hanya meneguhkan iman perempuan itu (ay. 46). Apakah Anda memiliki dasar iman yang benar seperti perempuan ini?—MRT 
SAAT IMAN KITA TERBANGUN DENGAN BENAR,
KITA AKAN MENJANGKAU KEAJAIBANNYA

Senin, 07 Januari 2013

PEMBUNUH MIMPI


Baca: Kejadian 37:5-20


Kata mereka seorang kepada yang lain: “Lihat, tukang mimpi kita itu datang!” (Kejadian 37:19)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 22-24

Barangkali hampir semua penemu ditertawakan ketika mereka menyatakan impian mereka. Ketika Bill Gates, misalnya, berbicara bahwa komputer pribadi akan ada di rumah orang banyak, orang tertawa tak percaya. Saat itu komputer dapat berukuran sebesar rumah. Kini, ketika impiannya terwujud, dunia menyanjungnya sebagai sosok yang visioner.

Yusuf bukan hanya ditertawakan oleh saudara-saudaranya karena impiannya, melainkan nyaris dibunuh. Akhirnya, ia dijual seolah barang dagangan. Tidak berhenti sampai di situ, setelah menjadi budak ia difitnah dan kemudian dijebloskan ke dalam penjara. Namun, perbudakan dan pemenjaraan terbukti tidak mampu mengubur impiannya. Saat terpuruk di lantai penjara pun ia terus percaya dan berpegang teguh pada janji Allah. Yusuf menunggu sepanjang 22 tahun sebelum impiannya menjadi kenyataan. Saudara-saudaranya kemudian sujud di hadapannya. Namun, lebih dari itu, penggenapan impiannya sekaligus mewujudkan tujuan besar Allah, yaitu menyelamatkan kehidupan umat pilihan yang dipakai Allah dalam rencana penebusan-Nya (Kej. 45:7 dan 50:20).

Ketika Allah memberi kita impian, bukan berarti jalan untuk mewujudkannya akan mulus. Sebaliknya, berbagai rintangan akan berusaha menggagalkan dan membunuhnya. Teruslah percaya dan berpegang teguh pada janji-Nya. Allah yang memberikan impian, Dia pula yang akan menyertai kita menghadapi rintangan dan mewujudkan impian tersebut. Ketika impian itu terwujud, biarlah nama-Nya dipermuliakan.—TS 
IMPIAN MENGINGATKAN BAHWA KITA HIDUP
BUKAN HANYA UNTUK HARI INI,
MELAINKAN UNTUK MEMPERSIAPKAN SEBUAH MASA DEPAN

PETAKA KABAR ANGIN


Baca: Amsal 6:16-19


... lidah dusta... saksi dusta yang menyemburnyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara. (Amsal 6:17,19)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 19-21

Setiap tahun pada bulan November, rakyat dari seluruh pelosok Kamboja membanjiri ibu kota Phnom Penh untuk menghadiri Festival Air. Pada 2010, festival akbar ini berubah menjadi petaka: 450 orang tewas di Jembatan Berlian, pusat berlangsungnya festival. Para pengunjung panik karena tersebar kabar angin bahwa jembatan itu tidak stabil. Alhasil, banyak korban tewas terinjak sesamanya dan terjun ke Sungai Tonle Sap.

Kabar angin dapat didengungkan secara iseng, namun dapat pula secara sengaja dengan disertai niat jahat. Efeknya tak jarang lebih kejam dari tikaman pedang tajam. Kabar angin, begitu dilontarkan, akan menyebar secara tak terkendali. Baik pencetus maupun penyebarnya tidak akan mampu mengontrol dampaknya.

Apakah Anda memperhatikan bahwa dua dari enam hal yang dibenci Tuhan dalam perikop hari ini berkaitan dengan kabar angin? Yang satu, lidah dusta (ay. 17), mengacu pada pencetusnya. Yang kedua, saksi dusta (ay. 19), menunjuk pada penyebarnya. Mengapa Tuhan menyampaikan peringatan yang begitu keras? Si pencetus dan si penyebar kabar angin sama-sama pengecut, tidak memiliki sikap ksatria. Kejahatannya bukan hanya membunuh karakter seseorang, namun dapat pula memakan ribuan korban. Bahkan ada perang antarbangsa yang pecah gara-gara kabar angin.

Kita perlu menjaga hati dan lidah dengan penuh kewaspadaan agar tidak mencetuskan atau menyebarkan kabar angin. Bagaimana menjaganya? Dengan mempersilakan firman-Nya, firman kebenaran, menguasai hati kita (lihat Mazmur 119:9-11).—SST 
LIDAH AKAN TERKENDALI
JIKA HATI KITA DIKUASAI KEBENARAN

Rabu, 02 Januari 2013

CATATAN KAKI


Baca: Roma 3:21-31


... dan oleh anugerah-Nya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus. Roma 3:24

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 7-9

Untuk menarik perhatian pembeli, banyak produk yang berjanji memberikan sesuatu secara gratis setelah kita membeli barang dalam jumlah tertentu. Beli dua produk, dapat produk gratis satu. Beli sepeda motor mendapat hadiah televisi gratis. Beli rumah mendapat bonus mobil gratis. Jika saldo tabungan kita mencapai angka tertentu, kita mendapat tiket berlibur ke luar negeri secara gratis. Namun, pada iklan itu biasanya terdapat sebuah catatan kaki bertanda bintang dengan tulisan yang sangat kecil, jauh lebih kecil dari font tulisan iklannya. Bunyinya: “Syarat dan ketentuan berlaku.” Jika tidak jeli, banyak pembeli yang merasa tertipu dan akhirnya kecewa.

“Tak ada makan siang gratis,” kata sebuah slogan. Ada benarnya. Jika Anda mendapat sesuatu secara gratis, sesungguhnya itu karena ada seseorang yang telah membayarkannya untuk Anda, dengan atau tanpa Anda sadari.

Orang-orang berdosa dapat diselamatkan dan dibenarkan karena Kristus telah membayar semua utang dosa manusia. Tak ada upaya manusia yang membuatnya dapat diselamatkan. Keselamatan hanya dimungkinkan jika kita beriman kepada Kristus. Karena kasih-Nya, Dia telah membayar utang kita dengan lunas. Tak ada lagi yang perlu kita tambahkan. Pada kebenaran ini terdapat catatan kaki dengan font tulisan yang besar: “Telah dibayar lunas oleh Yesus Kristus”.

Ingatlah senantiasa “catatan kaki” kerohanian kita tersebut. Hiduplah sesuai dengan identitas baru kita sebagai orang yang sudah diselamatkan dan dibenarkan.—HEM
TUHAN YESUS KRISTUS SUDAH MELUNASI SELURUH UTANG DOSA KITA
TAK PERLU LAGI KITA MENCICILNYA TIAP HARI DENGAN PERASAAN BERSALAH

Senin, 31 Desember 2012

ROTI GOSONG


Baca: Mazmur 65


Engkau memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu. (Mazmur 65:12a)

Bacaan Alkitab Setahun:
Kejadian 1-3

Saat Alin masih kecil, ibunya menyajikan makan malam berupa telur goreng, saus, dan beberapa kerat roti. Mungkin karena lelah setelah bekerja seharian, ibu Alin memanggang roti sampai gosong. Alin tegang menunggu respon ayahnya. Ternyata, sang ayah mengambil roti itu sambil tersenyum, memolesnya dengan mentega, lalu memakannya dengan lahap. Ibu Alin meminta maaf, tetapi suaminya menjawab, “Tidak apa-apa, Sayang.”

Sebelum tidur, Alin menghampiri ayahnya dan bertanya, mengapa ayah mau makan roti gosong. Sambil memeluknya, si ayah berkata, "Ibumu sudah lelah bekerja. Lagi pula, kita tidak akan sakit karena memakan roti gosong. Bersyukur saja ia masih bersama kita."

Hidup kita juga berisi banyak hal yang tak sempurna. Selain keberhasilan dan kebahagiaan, ada berbagai kegagalan dan kekecewaan. Saat merenung ke belakang, manakah yang menjadi fokus kita? Bagian yang negatif, yang membangkitkan keluh kesah? Atau, bagian yang positif, yang membuat hati kita membara dengan pujian dan syukur?

Sepatutnya kita bersyukur atas kebaikan Tuhan yang melimpahi dan melingkupi kita. Ya, kasih-Nya nyata dalam berbagai aspek kehidupan: dalam pengampunan-Nya yang tak ternilai dan undangan-Nya untuk menikmati damai bersama-Nya (ay. 3-5); dalam penyelamatan-Nya, juga kebajikan dan mukjizat-Nya yang mengikuti kita (ay. 6-9); dalam pintu kesempatan dan mata pencaharian yang Dia sediakan untuk memberi kita kecukupan (ay. 10-14). Sungguh suatu berkat indah yang memahkotai tahun-tahun kita, bukan?—AW 
SELAMA JANTUNG KITA MASIH BERDETAK
BERARTI KITA MASIH DAPAT BERSYUKUR MENGHITUNG BERKAT

Minggu, 30 Desember 2012

JANGAN TAKUT


Baca: Wahyu 1:9-20


“Jangan takut! Akulah Yang Pertama dan Yang Terkemudian, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.  (Wahyu 1:17-18)

Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 19-22

Menurut Anda, bagaimanakah sosok Allah itu? Sebagian orang mungkin membayangkan sosok seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis. Salah satu teman saya pernah bermimpi buruk karena takut dibuang Allah ke neraka. Sebagian lagi mungkin membayangkan sosok yang simpatik dan bersuara lembut. Seperti gambar Yesus yang sering kita lihat. Tersenyum memangku anak-anak, berbelas kasih pada orang sakit. Mungkin Anda ingin memeluk-Nya begitu berjumpa.

Yohanes bisa memberitahu kita bagaimana rasanya bertemu Yesus sebagai Allah dalam kemuliaan-Nya. Jangankan memberi hormat atau memeluk. Tungkai kakinya mendadak lemas untuk menopang tubuhnya. Ia tersungkur seperti orang mati. Wajah Yesus bagai matahari, mata bagai nyala api, suara bagai desau air bah, tangan memegang bintang, dan mulut mengeluarkan pedang (ayat 14-16). Menggentarkan orang paling berani sekalipun! Namun, dengarlah apa kata-Nya: “Jangan takut!” Pernyataan tentang diri-Nya menjamin bahwa semua ada dalam kendali-Nya (ayat 17-18).

Jangan takut! Allah yang dahsyat itu tidak ingin kita merasa takut pada-Nya. Dia ingin kita berlari mendekat, bukan menjauh dari-Nya. Justru karena Dia dahsyat, Dia ingin kita memercayakan hidup kepada-Nya. Seseorang pernah menghitung bahwa ada 365 kali kata “jangan takut” diulangi dalam Alkitab. Jangan takut menghadapi tiap-tiap hari sepanjang tahun yang terbentang di depan! Jangan takut datang kepada Allah! Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Anda memercayakan hidup pada Allah, apakah yang masih Anda takutkan?—ELS 
JANGAN TAKUT!
SEGALA SESUATU DALAM KENDALI ALLAH
!

OBITUARI


Baca: 2 Petrus 3:1-13


Pada hari itu langit akan lenyap ... dunia akan hangus oleh nyala api, ... Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.  (2 Petrus 3:10-11)

Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 12-18

Sebuah koran pernah keliru memuat obituari Alfred Nobel, selagi ia masih hidup. Yang meninggal sebenarnya adalah adik laki-laki Alfred. Namun, melalui kekeliruan itu, Alfred jadi melihat bagaimana orang lain menilai hidupnya, yaitu sebagai orang yang menjadi kaya dengan memungkinkan terjadinya pembunuhan massal. Memang, bahan-bahan peledak temuan Alfred telah dibeli pemerintah untuk produksi senjata. Terguncang dengan obituari itu, Alfred lalu memutuskan untuk memakai kekayaannya guna memberi penghargaan terhadap upaya-upaya kemanusiaan, termasuk yang kita kenal sebagai Nobel Perdamaian.

Bayangkan jika seperti Alfred, kita mendapat kesempatan untuk membaca obituari kita. Bagaimana jika obituari itu dituliskan dari sudut pandang surga? Orang bisa saja tidak mengenal kita dengan cukup dekat untuk bisa menilai kita, tetapi tidak ada yang tersembunyi bagi Tuhan! Rasul Petrus mengingatkan agar para pengikut Kristus tidak hidup seenaknya sebagaimana orang-orang yang tidak percaya pada hari penghakiman (ayat 3-9). Tuhan tidak lalai akan janji-Nya dan jelas Dia juga takkan lalai memperhatikan setiap detail kehidupan kita!

Selama kita masih hidup di dunia, kita masih diberi kesempatan untuk menyunting obituari kita. Akankah kita menginvestasikan hidup kita dalam hal-hal yang bernilai kekal? Ataukah kita mencurahkan seluruh hidup dalam ambisi pribadi, hidup yang tidak bertanggung jawab, atau kewajiban agama yang kosong? Jelang akhir tahun, mari mohon hikmat Tuhan agar kita dapat membedakan apa yang akan binasa bersama dunia dan apa yang dihargai Tuhan dalam kekekalan.—ELS 
HARI TUHAN CEPAT ATAU LAMBAT PASTI TIBA.
BAGAIMANA KITA MEMPERSIAPKAN DIRI MENGHADAPINYA?

Jumat, 28 Desember 2012

KOK BUKAN SAYA?


Baca: Matius 20:1-16


Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Matius 20:15)

Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 1-5

Semasa kuliah, saya “laris” diminta menangani acara anak dari berbagai gereja. Sempat tebersit rasa tak rela saat adik-adik kelas bermunculan dan menerima lebih banyak undangan melayani, terutama di tempat-tempat yang baru. Sebenarnya jika diundang, saya akan punya banyak dilema, karena saya sedang sibuk dengan tugas akhir. Namun, entah mengapa, saat itu iri hati tetap muncul meski hanya sesaat.

Perumpamaan Yesus tentang para pekerja di kebun anggur sangat telak menegur sikap iri hati (ayat 15). Para pekerja lama marah karena keberuntungan yang dinikmati oleh para pekerja baru (ayat 11). Mereka tak lagi puas dengan apa yang sudah diterima dan tadinya dianggap cukup (ayat 13). Sebelum perumpamaan ini diberikan, Petrus mempertanyakan upah bagi para pengikut Yesus. Pertanyaan ini muncul setelah ia mendengar Yesus menjanjikan harta di surga bagi orang lain (lihat 19:21, 27). Ketika Yesus berbicara tentang takhta kepada Petrus, muncul pertanyaan baru apakah murid tertentu bisa memiliki posisi tertentu (lihat 19:28, 20:21). Mungkinkah perumpamaan ini diberikan Yesus untuk menangkis potensi iri hati di hati para murid?

Pelayanan bisa rusak apabila iri hati melanda sesama anggota tubuh Kristus. Biasanya kita tidak iri pada orang yang jauh di atas kita atau yang berbeda bidang, tetapi justru pada rekan yang dekat dan kemampuannya mirip dengan kita. Kita perlu mengingatkan diri kita bahwa Allah berdaulat dalam memberikan kemampuan dan berkat-Nya. Ketika kita cemburu, kita sedang menuduh Allah berlaku tidak adil. Dan itu jelas bukan perilaku warga kerajaan Allah!—ITA 
PERHATIKANLAH APA YANG DIBERIKAN ALLAH PADA KITA,
BUKAN APA YANG DIBERIKAN-NYA PADA ORANG LAIN.

BERKAT DARI KRITIK


Baca: Amsal 15:29-33


Siapa mengabaikan didikan membuang dirinya sendiri, tetapi siapa mendengarkan teguran, memperoleh akal budi. (Amsal 15:32)

Bacaan Alkitab Setahun:
Wahyu 6-11

Meskipun saya senang belajar dari masukan orang lain, pada praktiknya tidak selalu mudah mencerna dan menerimanya. Suatu kali pemimpin saya mengembalikan sejumlah naskah yang sudah saya tulis dengan susah payah disertai komentar yang intinya mengatakan bahwa naskah-naskah itu harus dirombak ulang. Spontan saya protes dan berusaha membela pendapat saya. Lucunya, ketika pikiran sudah lebih tenang, dan saya membaca ulang komentar-komentar yang diberikan, saya menemukan banyak konsep saya yang memang keliru. Sambil memperbaikinya saya bersyukur. Kritik membangun mencegah saya melakukan kesalahan yang memalukan, sekaligus membuka wawasan dan mengasah ketajaman berpikir saya.

Alkitab memperingatkan kita untuk memiliki sikap yang terbuka untuk diajar. Teguran-teguran yang dimaksudkan untuk membangun haruslah didengarkan (ayat 31). Bukan didengarkan sambil lalu, tetapi diterima dengan pikiran terbuka. Teguran yang membangun itu disamakan dengan didikan, pengajaran yang memberikan akal budi (ayat 32). Rugi besar jika kita mengabaikannya, kita sedang membuang kesempatan untuk maju. Sikap yang mau diajar adalah cerminan kerendahan hati. Jika seseorang tidak cukup rendah hati untuk menerima masukan sesama, mungkinkah ia bisa sepenuh hati mendengarkan didikan Tuhan?

Acap kali pelayanan terhambat dan hubungan dalam tubuh Kristus bermasalah karena kita menolak untuk saling mendengarkan. Kita tidak mau belajar dari orang lain yang Tuhan tempatkan di sekitar kita. Adakah noda keangkuhan hati yang mungkin perlu kita bersihkan hari ini agar kita dapat dengan jernih melihat masukan-masukan yang penuh berkat di sekitar kita?—ELS 
TEGURAN YANG TULUS IBARAT PISAU OPERASI.
DITUJUKAN UNTUK MEMPERBAIKI, BUKAN UNTUK MENYAKITI.

Selasa, 25 Desember 2012

KEPALA DAN TUBUH


Baca: Kolose 1:15-23


Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu. (Kolose 1:18)

Bacaan Alkitab Setahun:
1 Yohanes

Dalam sejarah kerajaan Tiongkok, hukuman pancung merupakan pilihan terbanyak dalam melaksanakan hukuman mati. Memisahkan kepala dari tubuh membuat proses kematian cepat dan pasti. Hanya dalam sulap atau film kartun kita bisa menyaksikan kepala terpisah dari tubuh tanpa harus mati.

Dalam menggambarkan hubungan Kristus dengan jemaat-Nya, rasul Paulus menggunakan analogi kepala dan tubuh ini. Kristus adalah kepala, jemaat adalah tubuh-Nya (ayat 18). Mengapa? Karena Kristus adalah gambaran dari Allah sendiri (ayat 15). Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia (ayat 16). Segala kepenuhan Allah ada di dalam Dia (ayat 19). Itu artinya, apa yang ada dalam Pribadi Allah, juga dinyatakan dalam Pribadi Yesus Kristus. Untuk dapat hidup berkenan pada Allah, tepatlah jika jemaat meneladani Kristus. Lebih dari itu, Kristuslah yang memungkinkan manusia bisa diperdamaikan dengan Allah (ayat 21-22). Tanpa Kristus, tidak ada orang yang berkenan kepada Allah. Itulah alasan Dia disebut Kepala—oleh karena keutamaan-Nya. Sebagai Kepala, Kristus berhak memimpin dan mengarahkan jemaat-Nya.

Bagaimanakah selama ini kita menempatkan Kristus dalam kehidupan pribadi maupun berjemaat? Ketika kita lebih mementingkan aktivitas rohani daripada membangun karakter sesuai firman Tuhan, Kristus sedang tidak diutamakan. Ketika pengharapan Injil digantikan oleh pengharapan atas kekuatan sendiri, Kristus telah digeser dari tempat-Nya. Tanpa kepala, tubuh mati. Tanpa Kristus, tidaklah mungkin komunitas orang percaya dapat tetap hidup berkenan kepada Allah. Apakah Kristus adalah “Kepala” dalam kehidupan Anda?—JAP 
JIKA TUBUH TIDAK LAGI TAAT PADA KEPALA,
KEMUNGKINAN TUBUH SUDAH TERLEPAS DARI KEPALA.

NAMANYA YESUS


Baca: Lukas 2:21-24


Ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2:21)

Bacaan Alkitab Setahun:
2 Petrus; Yudas

Seorang pria bertanya kepada pendetanya, “Apa yang harus saya lakukan agar masuk surga?” Jawaban sang pendeta mengejutkannya, “Anda sudah terlambat. Tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk bisa masuk surga.” Dengan gelisah ia bertanya, “Apa maksud Anda, Pak Pendeta? Tidakkah ada sesuatu yang bisa saya lakukan?” Pendeta itu menjawab, “Apa yang harus dilakukan untuk masuk surga telah dikerjakan untuk Anda oleh Yesus, dua ribu tahun silam. Yang perlu Anda lakukan sekarang hanyalah menerima apa yang telah Dia kerjakan bagi Anda. Tidak ada yang bisa Anda tambahkan lagi.”

Nama Yesus berarti “Allah menyelamatkan”. Dan sesuai nama yang diberikan sebelum kelahiran-Nya (lihat Matius 1:21), Dia memang datang ke dalam dunia sebagai jalan keselamatan yang disediakan Allah sendiri. Yesus tidak datang untuk merintis sebuah agama atau membangun sebuah tradisi. Dia datang untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah. Dia juga disebut Kristus (lihat ayat 11), yang berarti Sang Mesias, Yang Diurapi. Dia disebut Imanuel, yang berarti: Allah menyertai kita (Matius 1:23).

Yang terbaik dari Natal adalah Yesus. Sia-sialah segala perayaan tanpa kehadiran-Nya. Melalui kelahiran Yesus, kita mendengar Allah berkata: “Anakku, tidak ada yang dapat kau lakukan untuk membereskan masalahmu. Sebab itu, Aku sendiri yang akan menolongmu. Aku datang untuk menggantikan rasa frustrasimu dengan kedamaian, kesalahan-kesalahanmu dengan pengampunan, kegelisahanmu dengan pengharapan yang pasti. Maukah engkau memercayai-Ku sepenuhnya?” Bagaimana kita meresponi kasih karunia-Nya ini?—JOE 
TIDAK ADA USAHA YANG DAPAT MEMBAWA KITA KEPADA ALLAH.
YANG DAPAT KITA LAKUKAN ADALAH MENERIMA ANUGERAH-NYA.

Senin, 24 Desember 2012

USAHA YANG KELIRU


Baca: 2 Petrus 1:1-11


Kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh ... (2 Petrus 1:3)

Bacaan Alkitab Setahun:
2 Timotius

Pernahkah Anda berandai-andai bahwa hidup Anda akan lebih baik jika hal tertentu Anda miliki? Andai aku memiliki pekerjaan tertentu ... andai aku punya banyak uang ... andai aku menemukan orang yang tepat ... andai aku dikaruniai tubuh yang indah ... andai jabatanku naik .... Ini adalah pergumulan semua orang. Kita berusaha mencari sesuatu yang akan memenuhkan hidup kita, yang akan menyelamatkan kita dari segala belitan masalah.

Bagaimana kita menanggapi kata Alkitab bahwa segala sesuatu yang kita perlukan untuk hidup sudah dikaruniakan pada kita? (ayat 3). Mungkin itu membuat kita bertanya-tanya. Tuhan, aku sudah lama mengikut-Mu, mengapa aku merasa hidupku masih begini-begini saja? Masalahnya mungkin terletak pada definisi kita tentang hidup. Rasul Petrus menjelaskan bahwa hidup yang berhasil itu tidak ada hubungannya dengan tren dunia, tetapi bagaimana kita dibentuk makin serupa dengan kodrat ilahi (ayat 4). Keberhasilan adalah makin siap menjadi warga kerajaan kekal dari Tuhan sendiri (ayat 11). Dan oleh kasih karunia Tuhan, semua yang kita butuhkan untuk itu telah disediakan di dalam Yesus Kristus (ayat 2-3). Yesus membebaskan kita dari dosa, dan memungkinkan kita mengejar hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup ini (ayat 5-9).

Mungkinkah selama ini kita mencari “Juru Selamat” di tempat yang keliru? Kita mencarinya dalam pekerjaan kita, dalam diri pasangan kita atau sosok pemimpin kita, dalam kepemilikan harta benda kita, dalam pencapaian, bahkan dalam kecanduan kita. Segala sesuatu telah disediakan Allah di dalam Kristus, Sang Juru Selamat dunia. Sudahkah Anda datang kepada-Nya?—JOE 
SEGALA YANG DIBUTUHKAN UNTUK HIDUP YANG BERHASIL
TELAH DISEDIAKAN ALLAH DI DALAM YESUS, JURU SELAMAT DUNIA.

Jumat, 21 Desember 2012

DAMAI DI BUMI


Baca: Lukas 2:8-14


“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14)

Bacaan Alkitab Setahun:
Ibrani 1-6


Seorang pengusaha yang sedang stres diajak temannya mengikuti sebuah seminar manajemen stres. Salah satu saran dari pembicara seminar itu adalah: “Lepaskan stres Anda dengan menceritakan masalah Anda kepada seseorang yang bisa mendengarkan.” Ia lalu menambahkan bahwa salah satu cara terbaik adalah berbicara kepada hewan kesayangan. Sang pengusaha sangat jengkel. Ia membayar mahal sebuah tiket seminar hanya untuk mendengarkan saran bahwa ia harus memiliki hubungan dari hati ke hati dengan anjing piaraannya. Jelas hewan itu takkan bisa membantu membereskan konflik-konflik pemicu stres yang ia alami dan menghadirkan damai di hatinya.

Natal membawa kabar baik bahwa Yesus datang untuk membawa damai sejahtera di bumi (ayat 14). Damai yang akan dinikmati oleh orang-orang yang “berkenan kepada Tuhan”. Bagaimana mungkin manusia berdosa bisa diperkenan Allah? Jelas bukan dengan usahanya sendiri. Orang paling saleh di dunia pun tak luput dari kekhilafan di hadapan Allah yang mahasuci dan membenci dosa. Manusia butuh Juru Selamat yang akan membebaskan mereka dari dosa-dosa yang menyebabkan mereka tak dapat hidup dalam damai dengan Allah dan dengan sesama.

Rick Warren menulis: “Kedamaian dunia takkan ada tanpa kedamaian di tengah bangsa-bangsa. Kedamaian bangsa takkan ada tanpa kedamaian di tengah komunitas kita. Kedamaian komunitas takkan ada tanpa kedamaian di tengah keluarga kita. Kedamaian keluarga takkan ada tanpa Raja Damai bertakhta dalam hati kita.” Ia benar. Jika Anda merindukan damai yang sejati, mengapa tidak datang kepada Sumber-Nya?—LIT 
BAGAIMANA DAMAI DAPAT TERCIPTA DALAM HIDUP KITA
JIKA KITA SENDIRI BELUM BERDAMAI DENGAN ALLAH?